Pertanyaan yang menarik dan memantikku untuk menulis tulisan ini. Sering banget berdiskusi akan hal ini, tapi tetep nggak nemu jawabannya, bahkan kadang tetap mempertanyakannya di pikiran, "Kok bisa ya Orang Cina di Indonesia banyak yang kaya? Padahal sama sama kerja keras, kok"
Kalau jawabannya karena orang Tionghoa lebih rajin, lebih hemat, atau lebih pintar bisnis itu semua tidak cukup untuk menjelaskan fenomenanya.
Kalau kita membedahnya secara sejarah, ekonomi, dan sosial, ada cerita yang jauh lebih kompleks. Juga, satu hal penting sejak awal, bahwa orang Tionghoa Indonesia bukan kelompok yang semuanya kaya.
Ada kelas atas, kelas menengah, pekerja, pedagang kecil, bahkan keluarga Tionghoa yang hidup miskin. Studi tentang komunitas Tionghoa kontemporer sendiri menekankan heterogenitas di komunitas mereka.
Jadi, menurutku pertanyaan yang lebih tepat bukan,
"Kenapa orang Cina kaya?"
melainkan..
"Kenapa dalam sejarah Indonesia, sebagian komunitas Tionghoa bisa membangun konsentrasi modal dan jaringan ekonomi yang sangat kuat dibandingkan proporsi jumlah mereka?"
Nah, kalau pertanyaannya seperti itu, jawabannya menjadi jauh lebih menarik.
Baca Juga: Merasa Nggak Punya Potensi? Ini Cara Menggali Potensi Diri
1. Pertama, persepsi bahwa orang Tionghoa Indonesia kaya itu ada dasarnya, tapi juga mengandung bias
Kita memang sering melihat toko, ruko, perusahaan keluarga, distributor, pabrik, restoran, properti, dan berbagai bisnis yang dimiliki orang Tionghoa.
Tetapi, ada jebakan dalam cara kita melihatnya. Bayangkan ada 100 keluarga Tionghoa:
- 5 keluarga sangat kaya
- 60 keluarga kelas menengah
- 25 keluarga kelas menengah bawah
- 10 keluarga miskin
Kemudian setiap hari kita melihat lima keluarga pertama karena bisnis mereka berada di ruang publik. Kita akhirnya merasa,
"Orang Tionghoa kaya semua." Padahal yang terlihat oleh kita adalah komunitas yang paling visible secara ekonomi.
Bahkan penelitian sejarah tentang
masyarakat Tionghoa Indonesia secara eksplisit mengingatkan bahwa komunitas ini sangat heterogen secara ekonomi, justru kelas menengah merupakan kelompok besar.
Ada pula dokumentasi mengenai komunitas Tionghoa miskin, misalnya penelitian UGM mengenai warga Tionghoa miskin di Kampung Sewan Lebak, Tangerang.
Baca selengkapnya.
Jadi, stereotip semua orang Tionghoa itu kaya secara faktual tidak tepat. Tetapi..
Ada fenomena yang perlu dijelaskan.
"Mengapa sebagian kelompok Tionghoa memiliki representasi yang sangat kuat dalam dunia perdagangan dan bisnis?"
Untuk memahami itu, kita perlu mundur ke ratusan tahun yang lalu.
2. Orang Tionghoa sudah jauh berada di Nusantara jauh sebelum Indonesia berdiri
Ini bagian yang sering hilang dalam pembicaraan sehari-hari. Kita mungkin membayangkan alurnya bakal seperti ini:
Cina → datang ke Indonesia → buka toko → kaya.
Padahal sejarahnya jauh lebih panjang. Hubungan antara masyarakat Tiongkok dan kepulauan Nusantara sudah berlangsung selama berabad-abad melalui perdagangan maritim.
Komunitas Tionghoa kemudian berkembang di berbagai kota pelabuhan. Batavia, Semarang, Surabaya, Pontianak, Medan, Palembang, Makassar, Banjarmasin, dan berbagai kota perdagangan lainnya menjadi tempat berkembangnya komunitas tersebut.
Dengan kata lain, banyak keluarga Tionghoa Indonesia memiliki sejarah tinggal di Nusantara selama beberapa generasi, bahkan berabad-abad.
Mereka bukan sekadar “orang Cina yang baru datang”.
Sebagian besar telah menjadi masyarakat Indonesia secara sosial dan kultural, termasuk kelompok peranakan, yang mengalami proses akulturasi dengan masyarakat lokal. Literatur mengenai Tionghoa Indonesia bahkan menggambarkan mereka sebagai komunitas yang sangat terakulturasi dan sudah berakar lama di Nusantara.
3. Tapi, kenapa kebanyakan masuknya ke wilayah perdagangan, ya?
Sampai ada istilah gaul yang bilang Citos yang artinya Cina punya toko atau Citato yang berarti Cina tanpa toko. Karena yang mudah terlihat, orang Tionghoa di Indonesia adalah pedagang.
Pada masa perdagangan Asia Tenggara, migrasi orang Tionghoa tidak terjadi secara acak.
Orang yang meninggalkan kampung halaman dan pergi ke wilayah asing biasanya bukan sampel acak dari seluruh penduduk Tiongkok.
Banyak yang merupakan:
- pedagang,
- pengrajin,
- buruh,
- pelaut,
- perantara perdagangan,
- pemilik usaha kecil.
Artinya ada selection effect.
Orang yang bermigrasi ke tempat yang jauh memang cenderung memiliki kemampuan atau keberanian tertentu untuk berdagang, beradaptasi dan mengambil risiko.
Kemudian ketika mereka menetap, aktivitas ekonomi itu diwariskan kepada generasi berikutnya. Ini penting.
Karena kalau kakek seseorang sudah memiliki toko, ayahnya melanjutkan toko tersebut, dan anaknya meneruskan bisnis yang sama, maka anak itu tidak memulai dari titik nol.
Sementara anak dari keluarga yang seluruh generasinya menjadi buruh, petani, atau pegawai mungkin juga bekerja sama kerasnya, tetapi dia memulai dari titik berbeda.
Jadi, usaha keras ≠ titik awal yang sama.
4. Bahkan kolonialisme Belanda ikut membentuk pola ini
Ini bagian yang menurutku paling penting. Orang Tionghoa tidak tiba-tiba menjadi kelompok bisnis karena "budaya Cina". Pemerintah kolonial Belanda ikut membentuk struktur ekonominya.
Pada masa kolonial, masyarakat Hindia Belanda dikategorikan secara rasial ke dalam kelompok besar: Eropa, Vreemde Oosterlingen atau “Foreign Orientals” yang terutama mencakup Tionghoa dan kelompok Asia lainnya, serta pribumi.
Kelompok-kelompok ini memperoleh hak dan posisi ekonomi yang berbeda.
Dan orang Tionghoa kemudian mendapatkan posisi penting sebagai perantara antara ekonomi kolonial dengan masyarakat lokal.
Misalnya, Importir Eropa akan menyerahkan terlebih dahulu ke pedagang Tionghoa, barulah kemudian diterima oleh produsen atau konsumen lokal.
Penelitian sejarah menunjukkan pedagang Tionghoa berperan sebagai perantara antara importir Eropa dan produsen/konsumen di pedalaman Jawa. Mereka bahkan menggunakan kredit dari pedagang Eropa untuk menjalankan perdagangan.
Jadi, karena hal itulah mereka jadi punya sesuatu yang sangat penting di dunia ekonomi, yaitu adalah akses terhadap jaringan perdagangan. Tentunya, jaringan itu sendiri adalah modal.
5. Ada juga sesuatu yang lebih kontroversial. Kolonialisme memberikan ruang tertentu kepada orang Tionghoa.
VOC dan pemerintah kolonial membutuhkan kelompok yang dapat menjalankan aktivitas perdagangan dan pengumpulan pendapatan.
Orang Tionghoa kemudian banyak terlibat dalam: perdagangan, pemungutan pajak, distribusi, perdagangan opium, perdagangan antarkota, perkreditan, perantara hasil pertanian.
Penelitian ekonomi sejarah terbaru mengenai
tax farming di Jawa menunjukkan bahwa pedagang Tionghoa mendominasi lelang pengelolaan pajak tertentu. Peneliti menjelaskan keunggulan mereka antara lain melalui spesialisasi perdagangan, jaringan distribusi, kemampuan organisasi, dan akses modal. Tetapi ada faktor politik juga: pemerintah kolonial melihat kelompok minoritas ini sebagai kelompok yang secara politik lebih mudah dikendalikan daripada elite pribumi.
Jadi, ini bukan cerita, "Orang Tionghoa lebih hebat daripada orang pribumi" melainkan, struktur kolonial menciptakan pembagian kerja dan peluang ekonomi yang berbeda antar kelompok.
Baca Juga: Anak Tangguh terlahir dari Orang Tua yang Sehat Mental
6. Tapi, bukan berarti orang Tionghoa selalu diuntungkan oleh Belanda
Karena, sejarahnya malah justru sangat kontradiksi. Contoh ekstrimnya adalah pembantaian Batavia 1740.
Pada Oktober 1740, terjadi pembunuhan massal terhadap komunitas Tionghoa di Batavia setelah ketegangan ekonomi, politik, dan sosial yang panjang. Studi sejarah memperkirakan lebih dari 10.000 orang Tionghoa terbunuh dalam peristiwa tersebut dan dampaknya sangat besar terhadap komunitas Tionghoa di Jawa. Sumber:
Journal Of Indonesian History
Jadi, sejak awal sudah ada paradox, Tionghoa diperlukan oleh sistem kolonial, tapi sekaligus didiskriminasi dan dicurigai.
Ini pola yang kemudian berulang dalam sejarah Indonesia, diperlukan secara ekonomi tetapi dicurigai secara sosial-politik.
7. Dan justru karena mereka minoritas jaringan keluarga sangat penting.
Ini juga jadi menjawab pertanyaan kebanyakan orang disekitarku, termasuk aku juga,
"Kenapa orang Tionghoa di Indonesia tampak mudah sekali, padahal sama sama kerja keras banting tulang, tapi kenapa hasilnya beda?"
Bayangkan kamu adalah pedagang Tionghoa pada abad ke-19. Kamu tinggal sebagai kelompok minoritas. Kamu tidak punya akses yang sama dengan elite kolonial. Kamu juga tidak sepenuhnya diterima sebagai bagian dari kelompok pribumi.
Dalam kondisi seperti itu, siapa yang paling bisa kamu percaya?
Keluarga.
Kemudian..
kakak → supplier
paman → distributor
sepupu → toko
teman keluarga → pinjaman
orang satu komunitas → informasi bisnis
anak → penerus usaha
Lama-lama terbentuklah yang disebut social capital.
Penelitian mengenai pengusaha Tionghoa di Ponorogo, misalnya, menemukan bahwa jaringan sosial dan keluarga merupakan bagian penting dari perkembangan bisnis mereka.
Dan penelitian mengenai bisnis keluarga Tionghoa Indonesia menemukan pola transgenerational entrepreneurship: anak dilibatkan sejak kecil, mendapatkan pengetahuan bisnis dari orang tua, memperoleh mentorship, role model, serta kemudian mengambil alih bisnis keluarga.
Penelitian terbaru mengenai keluarga Tionghoa di Surakarta juga menemukan pola pendidikan bisnis sejak dini melalui keterlibatan anak dalam usaha keluarga, solidaritas keluarga, dan transfer pengetahuan antargenerasi.
8. Di sinilah terjadi perbedaan "kerja keras" mulai kelihatan.
Kalau dibayangkan bisa menjadi ada dua anak yang berbeda, anak A memulai hidupnya dengan sekolah, kuliah tinggi, dengan tujuan untuk mencari kerja.
Sedangkan anak B, sekolah, kuliah tinggi, dengan tujuan mempersiapkan bisnis orang tuanya yang sudah dibangun untuk anak ini teruskan.
Jadi, kalau kita melihat, "Kok dia umur 30 tahun udah punya bisnis besar?"
Ya, bisa jadi bahkan dia sudah memulai bisnis itu sejak ia masih 10 tahun.
9. Stereotip: Orang Cina Jago Bisnis
Kalau sering mendengar, "Orang Cina memang pandai cari uang", "Orang Cina sudah diajarkan bisnis dari kecil"
Ada bagian tertentu yang mungkin muncul dalam keluarga tertentu. Tetapi secara ilmiah kita harus hati-hati. Karena kita tidak bisa mengatakan bahwa genetik etnis Tionghoa menyebabkan kemampuan bisnis.
Lebih masuk akal melihatnya sebagai hasil interaksi:
sejarah + migrasi + struktur ekonomi + keluarga + jaringan + pendidikan + pengalaman antargenerasi + peluang.
Bahkan penelitian mengenai praktik bisnis Tionghoa Indonesia secara eksplisit memperingatkan bahwa kita tidak seharusnya menjelaskan semuanya dengan “budaya Tionghoa” semata. Peneliti justru melihat praktik bisnis tersebut sebagai sesuatu yang berbeda menurut generasi dan konteks.
10. Kembali ke pertanyaan awal. kalau sama sama kerja keras, kenapa hasilnya bisa beda?
Menurutku jawabannya ada pada satu konsep:
Starting point.
Dua orang bisa sama-sama bekerja 12 jam sehari. Tetapi, orang pertama bekerja 12 jam untuk membayar kebutuhan hidup.
Sementara, orang kedua bekerja 12 jam untuk mengembangkan aset yang sudah dimiliki keluarganya.
Hasil akhirnya bisa sangat berbeda.
Dan ini berlaku untuk semua etnis..
Ini penting supaya pembahasannya tidak berubah menjadi stereotip baru.
Fenomena serupa bisa kita lihat pada keluarga pengusaha Jawa, keluarga Minang, keluarga Batak, keluarga Bugis, keluarga Arab-Indonesia, keluarga Madura, keluarga Melayu, dan kelompok lainnya.
Kalau sebuah keluarga sudah memiliki bisnis, tanah, rumah kontrakan, jaringan, pendidikan, modal. Maka generasi berikutnya memiliki keuntungan besar dibandingkan keluarga yang generasinya sebelumnya hidup dari upah.
Ini bukan fenomena “Cina”.
Ini adalah fenomena kelas sosial dan akumulasi modal antargenerasi.
Yang membuatnya tampak sangat “Tionghoa” adalah karena sejarah Indonesia memang membuat sebagian komunitas Tionghoa terkonsentrasi dalam sektor perdagangan dan bisnis.
Apakah kerja keras menentukan kekayaan?
kerja keras penting, tetapi tidak bekerja sendirian.
Ada setidaknya, kerja keras, lalu modal awal, kemudian pendidikan yang mumpuni, jaringan, kesempatan, lingkungan yang mendukung, keberuntungan, kebijakan, juga kemampuan mengakumulasi aset.
Dua orang bisa sama-sama bekerja keras tetapi mendapatkan hasil berbeda karena modal awal dan struktur kesempatan mereka berbeda.
Dan ini berlaku lintas etnis.
Sekarang terjawab, lah, yaa.. Kenapa, sih, orang Cina kebanyakan orang kaya?
Komentar
Posting Komentar